Penulis: Lina Marlina, S.Pd., M.Pd. (Dosen Universitas Pamulang)
LABIQA.ID — Kondisi etika dan moralitas anak-anak dan remaja di Indonesia saat ini menjadi perhatian di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan sosial. Globalisasi dan kemajuan teknologi membawa perubahan besar dalam cara anak-anak dan remaja berinteraksi, berkomunikasi, serta membentuk nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.
Perkembangan teknologi digital memberikan banyak manfaat bagi dunia pendidikan. Internet menyediakan akses yang luas terhadap informasi dan sumber belajar. Namun, di sisi lain, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan dalam pembentukan karakter, khususnya ketika peserta didik belum memiliki kemampuan yang cukup untuk menyaring informasi dan memahami batasan perilaku yang sesuai dengan norma.
Ada Apa dengan Etika dan Moralitas Remaja?
Internet dan media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak dan remaja. Melalui berbagai platform digital, mereka dapat berkomunikasi, memperoleh informasi, belajar, dan mengekspresikan diri. Namun, kemudahan tersebut juga memiliki sisi lain yang perlu mendapatkan perhatian.
Akses terhadap berbagai konten yang tidak sesuai dengan usia maupun norma sosial dapat memberikan pengaruh terhadap pola pikir dan perilaku peserta didik. Jika tidak diimbangi dengan pendampingan dari orang tua, guru, dan lingkungan sekitar, penggunaan teknologi dapat memengaruhi cara anak memahami etika, sopan santun, dan moralitas.
Persoalan etika dan moralitas juga dapat terlihat dalam lingkungan sekolah, terutama dalam cara siswa berkomunikasi dengan guru maupun orang lain. Dalam beberapa situasi, masih ditemukan siswa yang berkomunikasi dengan guru menggunakan sikap, bahasa, atau intonasi yang kurang mencerminkan rasa hormat.
Seorang siswa yang memahami etika dan sopan santun semestinya mampu menunjukkan sikap menghargai guru sebagai pendidik. Namun, dalam kenyataannya, terdapat perilaku seperti berbicara dengan suara keras, menjawab pertanyaan guru dengan cara yang kurang sopan, bahkan menunjukkan sikap yang terkesan meremehkan.
Perilaku tersebut tentu dapat memberikan dampak terhadap suasana dan proses pembelajaran di kelas. Ketika komunikasi antara guru dan siswa tidak dibangun atas dasar saling menghormati, proses pendidikan dapat menghadapi berbagai hambatan.
Pendidikan karakter menjadi semakin penting untuk menjawab persoalan tersebut. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, toleransi, disiplin, kepedulian, dan sikap menghargai orang lain perlu terus ditanamkan dalam kehidupan peserta didik.
Dalam konteks tersebut, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) memiliki posisi strategis. Pembelajaran PPKn tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan mengenai negara, konstitusi, dan kewarganegaraan, tetapi juga berkaitan erat dengan pembentukan sikap dan karakter peserta didik.
Apa Peran PPKn dalam Menanamkan Etika dan Moralitas?
Pembelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan moralitas peserta didik, khususnya pada usia remaja. Pembelajaran tersebut dapat dimulai sejak jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas atau kejuruan, hingga perguruan tinggi.
PPKn tidak semata-mata berorientasi pada transfer pengetahuan. Lebih dari itu, pembelajaran PPKn diarahkan untuk membantu peserta didik memahami, menghayati, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan yang terkandung dalam Pancasila dapat menjadi landasan bagi peserta didik dalam membangun perilaku yang baik. Nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan melalui sikap menghormati orang lain, menghargai perbedaan, bertanggung jawab, bersikap adil, serta mampu menyelesaikan persoalan melalui dialog dan musyawarah.
PPKn juga dapat menjadi sarana untuk membangun kesadaran peserta didik mengenai hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Kesadaran tersebut penting agar siswa tidak hanya memahami apa yang menjadi haknya, tetapi juga mengetahui tanggung jawab yang harus dijalankan.
Dalam kehidupan sehari-hari, penerapan nilai-nilai tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, berbicara dengan sopan kepada guru dan orang tua, menghargai teman yang berbeda pendapat, tidak melakukan perundungan, menjaga lingkungan sekolah, bertanggung jawab terhadap tugas, serta menggunakan media sosial secara bijak.
PPKn dan Tantangan Etika di Era Digital
Tantangan pembentukan karakter peserta didik saat ini tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah dan keluarga. Ruang digital juga telah menjadi bagian dari kehidupan sosial anak dan remaja.
Karena itu, pendidikan PPKn perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Pembelajaran mengenai etika tidak cukup hanya membahas perilaku dalam kehidupan nyata, tetapi juga perlu mengarahkan peserta didik untuk memahami etika dalam ruang digital.
Siswa perlu memahami bahwa kebebasan berpendapat di media sosial harus disertai dengan tanggung jawab. Menyampaikan pendapat tidak berarti seseorang bebas menghina, menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya, melakukan perundungan, atau merugikan orang lain.
Di sinilah pembelajaran PPKn dapat dikembangkan secara lebih kontekstual. Guru dapat menggunakan berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan peserta didik sebagai bahan pembelajaran, seperti etika bermedia sosial, penyebaran berita palsu, perundungan siber, ujaran kebencian, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan.
Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya mengetahui konsep kewarganegaraan secara teoritis, tetapi juga memahami bagaimana nilai-nilai Pancasila diterapkan dalam kehidupan nyata, termasuk ketika berinteraksi di ruang digital.
Pendidikan Karakter Membutuhkan Keteladanan
Penanaman etika dan moralitas tidak dapat hanya dibebankan kepada mata pelajaran PPKn. Pembentukan karakter merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan peserta didik itu sendiri.
Guru memiliki posisi penting sebagai teladan di lingkungan sekolah. Sikap guru dalam berkomunikasi, menyelesaikan masalah, menghargai perbedaan, dan memperlakukan siswa akan menjadi bagian dari proses pembelajaran karakter.
Demikian pula keluarga memiliki peran yang sangat besar. Kebiasaan anak dalam berbicara, bersikap, menggunakan teknologi, dan memperlakukan orang lain banyak dipengaruhi oleh lingkungan terdekatnya.
Oleh sebab itu, pendidikan etika dan moralitas akan lebih efektif apabila nilai yang diajarkan di sekolah juga mendapatkan penguatan di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Membangun Generasi yang Cerdas dan Berkarakter
Kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat generasi muda kehilangan nilai-nilai etika dan moralitas. Sebaliknya, teknologi perlu dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkuat pendidikan karakter dan membangun kesadaran sebagai warga negara.
PPKn memiliki peran penting dalam proses tersebut. Melalui pembelajaran yang inovatif, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan peserta didik, nilai-nilai Pancasila dapat diterjemahkan menjadi perilaku nyata.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya dapat diukur dari seberapa tinggi kemampuan akademik seorang siswa. Pendidikan juga perlu melihat bagaimana peserta didik bersikap, berkomunikasi, menghargai orang lain, bertanggung jawab, serta mampu mengambil keputusan secara bijaksana.
Menjadi generasi yang cerdas di era digital memang penting, tetapi menjadi generasi yang beretika, bermoral, dan bertanggung jawab jauh lebih penting. Di sinilah pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan memiliki peran strategis dalam mempersiapkan generasi muda Indonesia agar mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai luhur bangsa.
Editor : Heru Mustofa

Terima kasih atas publish opininya….:)